Meja-meja di ruang VIP Sekoci Hijau mulai ramai. Yah, tahu sendiri, lah, para perempuan rekan kolega kampusku, selalu bisa mendapatkan topik perbincangan yang layak diacungi jempol. Suasana yang menyenangkan, sebenarnya. Tapi jiwaku terlalu bodoh untuk menahan diri. Satu hal yang kadang membuatku terpuruk saat reuni seperti ini, ialah ingatan tentang masa laluku. Ketika aku berjanji pada perempuan yang paling aku cintai. Dia yang seharusnya menjadi ibu dari anakku ini, bukan sahabatnya. Tapi apa daya, aku terlibat dalam perjodohan untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Walaupun aku tahu, prioritas yang dipertaruhkan waktu itu adalah keluarga kami, bukannya harta kekayaan. Lalu tangisan anakku membuyarkan semuanya. Tanda aku harus segera mengambilkan bantal gulingnya, dan, ASTAGA!! Apa yang barusan kutuang ke kopiku?! ***** Apa, sih, yang sedang kupik— Sebuah kalung nama mencuat dari jok belakang. Bukannya menemukan bantal dan guling, malah mendapatkan apa yang selalu menghant...
I really want to tell everything in here, in the world. I want to let all my mind thoughts out from my head. But I don't know how. Everytome I try to write, I forgot. But when I shut the phone down, I remember all the same way. I think I can't help myself for it...
Comments
Post a Comment