Aku Tahu

Meja-meja di ruang VIP Sekoci Hijau mulai ramai. Yah, tahu sendiri, lah, para perempuan rekan kolega kampusku, selalu bisa mendapatkan topik perbincangan yang layak diacungi jempol. Suasana yang menyenangkan, sebenarnya. Tapi jiwaku terlalu bodoh untuk menahan diri. Satu hal yang kadang membuatku terpuruk saat reuni seperti ini, ialah ingatan tentang masa laluku. Ketika aku berjanji pada perempuan yang paling aku cintai. Dia yang seharusnya menjadi ibu dari anakku ini, bukan sahabatnya. Tapi apa daya, aku terlibat dalam perjodohan untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Walaupun aku tahu, prioritas yang dipertaruhkan waktu itu adalah keluarga kami, bukannya harta kekayaan. Lalu tangisan anakku membuyarkan semuanya. Tanda aku harus segera mengambilkan bantal gulingnya, dan, ASTAGA!! Apa yang barusan kutuang ke kopiku?!
*****
Apa, sih, yang sedang kupik—
Sebuah kalung nama mencuat dari jok belakang. Bukannya menemukan bantal dan guling, malah mendapatkan apa yang selalu menghantuiku. Kenangan kencan, romansa-romansa yang manis... Aku menggeleng keras. Aku tersadar, sudah berapa lama aku mengulang kenangan itu? Ah, dasar bodoh. Tod, anakmu butuh bantal gulingnya. Aku terus berujar pada diri sendiri untuk mengusir rasa rindu yang tiba-tiba menggerayangiku. Segera bantal guling di dekapan, aku bergegas kembali ke ruangan. batinku menjerit. "Kalian lihat anakku? Cowok, kecil, setinggi ini, lah, kira-kira?"
Semua menggeleng. Dengan panik, kutanya semua teman-temanku. Berlari dari ruangan ke ruangan, hingga bertanya pada pelayan restoran. "Tadi saya lihat anak mirip gambaran bapak, ada di balkon atas, pak. Sama mbak, mbak, begitu. Bukan istri bapak, ya?" pelayan itu malah menginterograsiku. Kulempar senyum dan berlari ke balkon lantai atas. Segala pikiran buruk anakku diculik mulai membuatku keringat dingin. Sampai akhirnya kudapati anakku tertidur di bahu seorang perempuan. Dalam gendongan itu, bisa kudengar napasnya sesenggukan, menandakan ia habis menangis. Tepat saat aku melangkah, perempuan itu menoleh sedikit. Jantungku serasa mencelos. Anakku terbangun, dan saat perempuan itu sepenuhnya menghadapku, jiwaku serasa hidup seutuhnya. "Pah.. Pah.." suara anakku menyadarkan tatapanku yang berpaku pada perempuan itu. "Oh, hai, Tody. Maaf, anakmu tadi menangis keras-keras, aku refleks menggendongnya ke sini. Maaf aku nggak bermaksu-" Astaga, ya Tuhan, suaranya yang merdu, masih mampu memicu detak jantungku.
"Geraldine. Kamu Geraldine, kan?"
Aku maju selangkah, menatap matanya yang masih indah, cokelat tua dibingkai garis hitam pupilnya, hanya aku yang pernah tahu detil itu. Kusunggingkan senyum bangga saat ingatan kencan terakhir itu, secara tidak sengaja. Dengan ragu-ragu, kusentuhkan tanganku ke lengannya saat mengambil anakku dari pelukannya. Benar saja, butuh keberanian besar untuk menahan diri memeluknya. "Phapha," desah anakku.
"Kamu ke mana, sayang? Papa sampai takut.."
"Phapha perghinyha kehlamaan. Ahkuh tahkut, tehrus kehtemuh ihbuh Adine."
"Adine itu siapa?"
"Dia menyingkat namaku. Geraldine jadi Adine." perempuan itu menjawab dengan nada penuh kasih, membuatku ingin menangis. Ketika dia membelai putraku, barulah kusadari, Geraldine ini, Geraldine-ku yang dulu, adalah guru sekolah yang selalu menjadi kesukaan putraku. "Jadi, cowok manis yang paling jagoan ini anakmu, ya, Tod?" ujar Geraldine tenang. Anakku suka sekali dengan sentuhannya, dia terkikik geli. "Iya, ini anakku."
"Mamamu mana, sayang?" tanyanya pada anakku, dan kengerian itu muncul lagi membuatku tegang. Entah apa yang terjadi tadi, untuk pertama kalinya anakku sangat tenang ketika menatap lagit dan menjawab, "Dih ahtas sahna, buh."
Tepat saat aku akan menjatuhkan anakku karena lemas melihat tanggapannya, Geraldine nyaris berjegang menangkapnya. "Tody, kamu kenapa?! Anakmu bisa jatuh!" bentak Geraldine refleks. Aku tahu dia refleks, karena perempuan ini, masih jelas di ingatanku, betapa tenangnya anakku di pelukannya beberapa menit lalu.
"Maaf, Tod, aku refleks. Kamu baik-baik saja?"
Bingo. "Iya, maaf, aku.. Agak kurang fokus. Eh, maaf, aku cuma kaget ketemu lagi sama kamu, Din," ujarku mengumpulkan keberanian untuk tidak salah tingkah.
"Aku mau pulang saja, kasihan anakku. Pasti dia kelelahan." lanjutku pasrah.
"Kamu bawa mobil?" tanyanya tanpa ragu. Aku melihatnya lagi, dan mengangguk. Geraldine berdecak mendesah ringan. "Ayo, aku temani kamu pulang. Kasihan anakmu,"
"Aku bisa sendiri, kok." secepat kilat aku melangkah, tapi nyaris jatuh tersandung bangku. Ya Tuhan, aku memeluk anakku erat-erat. Percuma saja aku menyembunyikan apapun dari Geraldine. Dia bahkan diam saja dengan gaya khasnya, dia berjalan beriringan denganku, tanpa sekalipun menoleh pada kerumunan di restoran yang mulai berbisik-bisik memperhatikan. Baiklah, aku mengalah.
******
Sepanjang jalan aku berdebat dengan batinku. Gelisah. Marah. Kecewa. Rindu. Lalu kupandangi anakku dan melirik Geraldine di bangku kemudi. Kemudian aku sadar sesuatu. Di jari manisnya meligkar sebuah cincin emas kuning dengan permata. Aku spontan bertanya dalam hati, dia sudah menikah????
Geraldine langsung pulang begitu kami tiba di rumahku. Dia hanya tersenyum singkat padaku dan segera pergi. Sepanjang sisa hari kuhabiskan menemani anakku tidur, membelainya sambil mengingat kejadian hari ini. Memandang anakku membuatku seolah memandang Geraldine. Kutampar diriku sendiri. Betapa rapuhnya aku akan Geraldine. Seumur hidupku, hanya Geraldine yang benar-benar mampu menguasaiku seperti ini. Yah, hanya pemikiranku saja, tapi semua tadi nyata. Aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya pada anakku. Kehadirannya yang tiba-tiba, membangkitkan rasa cinta yang sudah lama tidak kudapatkan dari seorang perempuan. Hei, bodoh. Memaki diri sendiri, aku punya anak, dan.. Mungkin Geraldine benar telah menikah. Setelah kupikir betapa egoisnya aku membenci kenyataan soal cincin Geraldine, tapi aku sendiri telah lebih dulu menghancurkannya. Menanam janji mematikan, dan, yang terparah, menikah dengan sahabatnya. Aku, pun, memutuskan untuk menenangkan diri. Kucoba fokus pada urusan wasiat mendiang istriku yang masih tak kunjung usai. Tepat saat aku mencium anakku dan akan pergi tidur, anakku mengigau, "Mahmah.. Ahdine..."
*****
Perayaan Paskah yang kuhadiri di sekolah anakku membuatku kehilangan akal sehat. Bagamana tidak, sejak aku tahu bahwa Geraldine adalah gurunya, aku bersikeras menjemputnya sebelum bel, untuk bisa memandang Geradine dari mobil. Aku tahu aku sekarang menginginkannya. Lagi dan lagi. Menginginkan Geraldine seutuhnya. Sampai sore ini, tepat setelah drama yang diperankan anak-anak, tiba giliran penampilan guru-guru. Ah, sudahlah. Aku, kan, bisa cuci mata sekalian. Entah apa karma yang berlaku padaku sejak hari itu, aku tersedak minumku sendiri. Geraldine tampil sama pengajar lain, tapi dia... Dia menggunakan evening gown merah tembaga, gaun yang kuhadiahkan untuk ulang tahunnya ke-21. Tentu saja, semua mata memandang ke arahnya. Membuat keinginanku untuk sungguh memilikinya semakin besar, semakin buas. Diam-diam aku bersyukur hari ini pengasuh anakku masuk kerja, jadi kuputuskan mengajak Geraldine makan malam. Kubawakan setangkai tulip merah yang kucabut dari meja. "Hai,"
"Hai, Tody! Kamu datang ya? Kukira anakmu hanya bareng mbaknya,"
"Ha, ha, iya, kebetulan rapat hari ini batal. Jadi, yah," aku masih pembohong ulung. Geraldine tertawa. "Benar batal apa kamu batalkan?"
Kena kau. Aku tertawa. "Batal, kok. Oh iya, kamu malam ini ada acara?"
Aku menatapnya tajam dan yakin akan apa yang akan kudapat dari raut wajahnya. "Ada." Geraldine tersenyum dan aku cemberut. "Kalau kamu ajak pergi," lanjutnya tertawa membiarkanku terlihat bodoh memikirkan ucapannya. "Aku bercanda. Aku tidak ada acara apa-apa, Tod. Belum, tepatnya. Ngomong-ngomong, terima kasih, ya, bunganya." ia tersenyum lagi. "Iya, sama-sama. Kalau gitu, apa kamu mau makan malam bareng aku? Yah, setelah mengantar anakku pulang. Aku janji tidak akan lama-lama."
"Boleh. Tapi hanya makan malam, ya."
"Eh, mem-" ucapanku terpotong panggilan kepala sekolah. Setengah jam kemudian, Geraldine berjalan menggandeng anakku yang menggendong mainannya. Aku tidak habis pikir apa yang sedang terjadi padaku. Apa, sih, yang kupikirkan? Perempuan yang masih aku cintai sekarang muncul di hidupku.... dan mengisi jiwa anakku sejak kepergian ibunya. Anakku tertidur sepanjang jalan dan tetap tidur sampai rumah, dan itu bagus. Maksudku, baik buat kesehatannya, jadi besok dia bisa bermain lagi setelah seharian penuh lelah beraktivitas... Juga baik buatku tidak perlu bertele-tele alasan pergi dengan Geraldine, berdua saja.
Seekor bebek panggang diletakkan di hadapan kami, dan Geraldine menatapnya tidak percaya. "Yah, aku ingin kamu tahu saja, aku masih ingat makanan favorit kita setiap awal bulan. Kamu ingat?" semburku bangga. "Umm, iya, aku ingat. Aku tadi hanya berpikir, betapa legitnya! Lihat, deh, warna kulitnya pas cokelatnya, mengkilap... Mana bisa aku sabar mencobanya," Geraldine tertawa melihat aku melongo. "Hei, Tody, kenapa? Aku senang, lho, kamu ajak makan bebek lagi. Dan aku suka sekali waktu bebek ini hidang di depanku. Cantik!"
"Oh, iya, eh, umm, iya aku senang tahu kamu senang. Eh maksudku,"
Gerladine mendongak dan menatap mataku langsung. Mau mati rasanya.
"Ya sudah, yuk, kita makan." tutupku mencomot duluan.
"Ih, curang! Aku juga mau comot duluan!"
Aku tersenyum melihatnya; dia menggelungkan rambut ke atas, dan melepas semua aksesoris di tangannya. Sadar tengah kuperhatikan, dia menyodorkan sambal rawit ke hadapanku. "Kamu tahu, yang kalah menghabiskan sambal ini dalam lima menit harus traktir yang di ujung sana," dia menunjuk ke sebuah rak berisi deretan wine, Martini, vodka dan sejenisnya. Aku langsung tahu karena pelayan baru saja membuka tirainya, pertanda botol-botol tersebut hanya untuk jam makan di atas jam 10 malam. Aku meliriknya, "Oke," dan menggulung kemejaku, melepaskan jam tangan. "Hitungan ketiga?"
"Satu... Tiga." Sebenarnya, alasanku menerima tawarannya bukan hanya sekedar demi sebotol minuman. Tapi juga mendapatkan kesempatan menikmati momen makan bersama kami, yang entah apa bisa kudapatkan lagi. Susah payah kuhabiskan sambal itu, tapi tetap saja, mangkok sambalnya bersih dalam waktu lebih singkat. Menyadari sesuatu... Bebeknya masih agak banyak. "Kok?!" aku nyaris terdengar menjerit.
Geraldine meneguk air putihnya dan tertawa. "Kamu perhatikan apa, sih? Aku sudah habis sambalnya lho,"
"Bebeknya?" aku bertanya sambil melongo. "Kamu, dong," dia tertawa lagi.
"Oke, kalau aku bisa habiskan bersih sebelum tengah malam, kamu yang traktir."
"Boleh saja," aku menatapnya tak percaya saat dia menjawab. Tapi aku lebih tak percaya lagi, waktu dia memotong bebek itu, satu potong lebih besar dari satunya. "Kita bawa yang ini, buat anakmu, siapa tahu besok pagi dia kepingin bebek," ujarnya tanpa kutanya. "Kamu perhatian banget, sih..."
"Yah, anakmu, kan..."
Anakku juga, batinku dalam hati ingin mendengarnya melanjutkan seperti itu.
"...dia selalu membawakan aku bunga tiap pagi, jadi sesekai boleh, dong, kita bawakan bebek panggang buat dia. Pasti dia suka. Eh, dia tidak alergi, kan?"
Aku melorot di bangkuku. Sedih tidak ada jawaban itu. "Ya sudah, tentu saja dia suka bebek panggang." ujarku putus asa. "Lagipula, aku tidak ingin kamu kekenyangan. Ingat, tidak, dulu waktu kamu pernah kekenyangan terlalu banyak makan, besoknya kamu sakit? Nah, aku cuma tidak mau itu terjadi lagi."
Mendengar kalimat terakhirnya, dengan segera, kuhabiskan bebek itu.
"Wah, pas sebelas lima sembilan. Masih kuat minum?"
"Harusnya aku yang tanya, kamu mau minum bareng aku?" tanyaku mencondongkan badan. Geraldine tersenyum menatapku, menjetikkan jari memesan sebotol Pinot Noir, tanpa melepaskan pandangannya yang, bagiku, mematikan.
*****
Ratusan canda tawa dan gosip tentang zaman kuliah dulu terlontar semalaman. Saking serunya sampai kami memutuskan untuk parkir di taman kota saja, suatu gagasan romantis yang terpikirkan oleh benakku, duduk di kap mobil dan menghabiskan Pinot Noir bersama perempuan yang masih sempurna bagiku. Geraldine tertawa sangat lantang, hingga menangis. "Kamu gila, sih, itu hal terbodoh yang pernah kualami,"
"Yah, memoriku terbatas pada hal bodoh, ya..."
"Ngomong-ngomong, boleh aku tanya soal mendiang istrimu?" ujarnya halus.
"Kamu akan marah, tidak?"
Geraldine menatapku diam dan ketakutan membanjiriku. "Aku tahu, Tody, kamu menikah sama sahabatku. Tepat di saat aku benar-benar mengira kamu kembali untuk mencariku." Geraldine berujar sambil menyambar botol dariku dan merebahkan diri di kaca depan mobilku. Angin malam tiba-tiba berhembus dingin di dekatku. Lalu aku teringat, dia tahu, karena aku tidak sengaja mengirimnya undangan pernikahanku ke surelnya dulu. Tak terlintas bahwa aku masih punya kontaknya.
"Hei, ada yang mau kamu bicarakan sama aku?"
Aku pun berbaring menghadapnya, bertumpu pada siku. "Aku kehabisan kata-kata saat perjodohan itu dilangsungkan. Aku memang pulang dari Eropa untuk mencarimu. Tapi saat itu dia sudah mengandung dari orang lain, dan ketika kami menikah, aku baru sadar semuanya hanya seting. Kemudian aku hendak menceraikannya, tapi dia sungguhan hamil, dan kali ini sungguh anakku. Dan sekarang, aku merasa sangat terpuruk. Terlebih melihat cincin di jarimu." Geraldine terbelak. Astaga, aku sungguhan mabuk.. Karenanya. Kurebahkan diri sambil meliriknya meletakkan botol ke bawah. Ketika aku membuka mata, Geraldine dengan bertumpu siku memandangku tenang. "Iya, aku tahu. Aku menikah dengan ahli hukum waris mendiang istrimu. Darinya, aku tahu soal kamu." Aku masih menatapnya. Aku tidak percaya aku masih terpaku menatap matanya yang gelap dan dalam seperti jurang. "Tapi kita akan baik-baik saja." ujarnya pelan. "Yah, aku dan anakku akan berangkat ke Wales bulan Juni nanti. Anakku mengalami sindrom bawaan ibunya, dan hanya dokter di Wales yang cocok dengannya." aku berusaha mencegahnya mendengar suaraku yang nyaris retak.
"Aku pun begitu dengan hidupku yang baru."
"Terima kasih untuk terakhir kalinya, Geraldine." kubelai rambutnya yang indah.
"Terima kasih untuk semuanya, Tody. Kamu tahu, kan, kita akan baik-baik saja?"
Dia memandangku, untuk yang terakhir, dengan tatapan penuh kasih. Sejenak terlintas salam perpisahan, sebelum semuanya selesai. Tapi dia memberikannya lebih dulu. Dia menciumku penuh-penuh, membiarkan aku hanyut dalam kenangan yang sedang dibakarnya. Ketika aku balas menciumnya, dia tersenyum, senyuman paling sempurna yang pernah kucium. "Kita akan baik-baik saja," ujarku kembali menatapnya.
"Aku tahu." Geraldine kembali menatap langit. "Kita berdua tahu."
"Sampai ketemu lagi, Tody." ujarnya. "Kamu tahu, kan, aku terlalu rapuh dan tidak bisa menerima semua ini?" sekarang aku terdengar putus asa sungguhan. "Aku tahu," dia tersenyum sambil memakai sepatunya. "Aku pernah menjadi yang lebih rapuh juga." lanjutnya. Aku sangat tahu. Karenanya, saat kamu melangkah ke hidupmu yang baru, aku tahu kamu mendapatkannya. Semuanya yang lebih baik dari aku. Lebih dari yang pantas kamu dapatkan. Aku tahu.


Jakarta, Desember 2016

Comments

Popular posts from this blog

Only Two

Still Same Wish